Biografi Dr. KH. Chariri Shofa, M.Ag Purwokerto

Sang Ulama, Akademisi, dan Penggerak Umat

Di tengah bentangan sejarah intelektual Islam Indonesia, nama Dr. K.H. Chariri Shofa, M.Ag. terukir sebagai seorang ulama kharismatik, akademisi brilian, dan penggerak umat yang tak kenal lelah. Beliau bukan sekadar tokoh, melainkan sebuah jembatan kokoh yang menghubungkan kedalaman samudra tradisi ilmu agama dengan cakrawala wawasan akademis modern yang terus berubah. Kemampuannya mengkontekstualisasikan ajaran-ajaran luhur dari kitab kuning untuk menjawab tantangan zaman menjadikannya lentera bagi banyak orang. Hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk pendidikan, dakwah, dan pengabdian, meninggalkan warisan spiritual dan intelektual yang terus mengalir, khususnya di denyut nadi Nahdlatul Ulama (NU) dan di dalam menara gading perguruan tinggi Islam. Warisannya bukanlah menara gading yang kaku, melainkan mata air ilmu yang terus membasahi ladang-ladang pengabdian generasi setelahnya.

Akar dan Tunas: Kelahiran Sang Titisan Ulama

Pada hari kesebelas bulan suci Ramadhan 1376 H, atau bertepatan dengan 11 April 1957, di Dusun Jambean, Kalibeber, Wonosobo—sebuah daerah dataran tinggi yang sejuk udaranya dan kental nuansa religiusitasnya—lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Khariri. Kelak, sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas kejernihan pemikirannya, seorang gurunya menambahkan nama "Shofa" (berarti 'jernih' atau 'suci') di belakang namanya. Ia adalah buah hati dari pasangan H. Soebandi Rachmat dan Hj. Khotijah, keluarga sederhana yang memegang teguh nilai-nilai agama.

Darah yang mengalir di tubuhnya bukanlah darah biasa. Dari garis sang ibu, nasabnya tersambung pada Kyai Ali Ibrohim (Kyai Nur Ali Sastanegara), seorang ahli tasawuf yang juga senapati kepercayaan Pangeran Diponegoro, menandakan warisan spiritualitas dan perjuangan. Jika dirunut lebih jauh, silsilahnya bertemu dengan trah bangsawan dan ulama besar, dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Sinuwun Amangkurat Mas, hingga Raja Majapahit, Brawijaya V. Latar belakang keluarga yang luhur ini bukan sekadar catatan silsilah, melainkan sumber inspirasi dan tanggung jawab moral yang menanamkan benih karakter mulia, kepemimpinan, dan kedalaman spiritual dalam dirinya sejak dini.

Perjalanan Sang Penimba Ilmu

Perjalanan intelektualnya dimulai dari tanah kelahirannya, dari bangku sekolah dasar hingga lulus dari Madrasah Aliyyah Negeri Kalibeber pada 1976. Namun, dahaga akan ilmu tak pernah berhenti di situ. Beliau melangkahkan kaki lebih jauh, menapaki jenjang pendidikan tinggi di berbagai kota, sebuah perjalanan yang menunjukkan kegigihannya dalam menyatukan dua kutub keilmuan:

  • Sarjana (S1): Memilih Sastra Arab di Fakultas Adab, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus 1983). Di kota pelajar inilah wawasan kebangsaan dan keislamannya ditempa dalam iklim intelektual yang dinamis.

  • Magister (S2): Merantau ke ujung barat Indonesia untuk mendalami Tafsir Hadits di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (lulus 1997). Pengalamannya di Serambi Mekkah memberinya perspektif baru tentang penerapan syariat dan kekayaan tradisi Islam di Nusantara.

  • Doktor (S3): Kembali ke almamaternya, menuntaskan studi Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2018, sebuah pencapaian puncak yang melengkapi perjalanan akademisnya.

Untuk menyempurnakan ilmunya, beliau duduk bersimpuh di hadapan para ulama agung, menjalani laku seorang santri sejati. Di hadapan K.H. Muntaha al-Hafidz di Kalibeber, Wonosobo, beliau tidak hanya belajar, tetapi juga menyambungkan sanad tahfiz Al-Qur'an hingga Rasulullah SAW. Beliau juga menimba ilmu dari Kyai Masykur bin K.H. Abdul Hamid di Mojotengah dan K.H. Abdul Hadi As-Syafi'i di Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Perpaduan antara pendidikan formal yang kritis dan pendidikan pesantren yang spiritual inilah yang melahirkan sosoknya yang utuh: seorang intelektual dengan hati seorang sufi.

Dharma Bakti untuk Umat dan Ilmu Pengetahuan

Pengabdian Dr. K.H. Chariri Shofa terukir cemerlang di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Sebagai dosen Fakultas Syariah, kepakarannya di bidang Ilmu Alat, Ushul Fiqh, hingga Ilmu Dakwah menjadi rujukan utama. Namun, kontribusinya jauh melampaui ruang kelas. Visi dan kepemimpinannya teruji saat mengemban amanah strategis, mulai dari Ketua Jurusan, Pembantu Ketua, hingga menjadi Ketua STAIN Purwokerto selama dua periode (2002-2010). Di bawah kepemimpinannya, STAIN Purwokerto mengalami kemajuan pesat, meletakkan fondasi penting bagi transformasinya menjadi IAIN dan kemudian UIN.

Di luar kampus, khidmahnya untuk Nahdlatul Ulama tak pernah surut. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banyumas selama dua periode (1992-2002), menakhodai organisasi di era transisi reformasi yang penuh tantangan dengan kearifan dan ketenangan. Kiprahnya di tengah masyarakat juga tercatat saat beliau memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas (2010-2015), menjadi penyejuk dan pemersatu umat.

Salah satu monumen hidupnya yang paling monumental adalah Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh, Purwokerto. Terinspirasi dari pengalamannya di Aceh, beliau merintis dan memimpin yayasan yang menaungi pesantren ini sejak 1997 hingga akhir hayatnya. Pesantren ini adalah perwujudan mimpinya: sebuah lembaga yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mencetak kader-kader intelektual yang berakhlak mulia dan siap mengabdi di tengah masyarakat.

Warisan Abadi Sang Pemikir

Sebagai seorang pemikir, penanya tak pernah kering. Beliau melahirkan sejumlah karya monumental seperti kitab Al-Burhan dan buku-buku penting yang menjadi pegangan banyak orang, di antaranya Menelusuri Amaliah Wong NU (2007) yang mengokohkan tradisi Aswaja, dan Metode Penyelesaian Hadits Kontradiktif (2009) yang menunjukkan kedalaman analisisnya. Puluhan artikel ilmiahnya tersebar di berbagai jurnal akademik, menjadi bukti ketajaman pemikirannya yang selalu relevan.

Dedikasinya diganjar dengan penghargaan Satya Lancana Karya Satya oleh negara. Namun, penghargaan terbesarnya mungkin adalah keharmonisan keluarganya. Bersama sang istri, Dra. Hj. Umi Afifah, M.S.I, dan kelima puterinya, beliau dinobatkan sebagai Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional pada tahun 2016. Ini adalah bukti nyata bahwa beliau adalah teladan paripurna, baik di ranah publik maupun domestik, menunjukkan bahwa kesuksesan seorang pemimpin besar juga diukur dari kemampuannya membangun bahtera rumah tangga yang damai.

Berpulangnya Sang Panutan

Pada hari Sabtu Legi, 12 September 2020 (24 Muharram 1442 H), dalam usia 63 tahun, Dr. K.H. Chariri Shofa, M.Ag. berpulang ke haribaan-Nya, meninggalkan duka mendalam bagi umat. Sesuai wasiatnya, jasadnya disemayamkan di kompleks Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh. Pemilihan tempat ini bukanlah tanpa makna; ini adalah pesan terakhirnya, bahwa raganya mungkin telah tiada, namun jiwa, semangat, dan perjuangannya akan terus hidup, menyatu dengan denyut nadi pendidikan para santri yang tak akan pernah berhenti. Beliau telah pergi, namun warisannya sebagai teladan (uswah) dan panutan (qudwah) akan senantiasa abadi dalam setiap jengkal pengabdian dan tetes ilmu yang terus mengalir dari para penerusnya.

Comments