Ketika Ibu Sambangi Pesantrenku
Amin tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya punya orang tua.
Sejak ingatannya mulai bisa membedakan pagi dan sore, hidupnya sudah diisi suara tongkat kayu kakek yang diseret pelan di lantai, bau minyak kayu putih nenek, dan adzan Magrib dari surau kecil di ujung desa Sidareja. Tidak ada ayah yang mengantar ke sekolah. Tidak ada ibu yang menunggu di depan pintu dengan segelas teh hangat.
Yang ada hanya kalimat pendek yang diulang pelan-pelan setiap kali ia bertanya, “Orang tuamu ada urusan jauh, Min.”
Amin tumbuh dengan jawaban itu. Ia tidak menuntut. Anak yang terlalu cepat belajar menahan tanya biasanya memang terlihat lebih dewasa dari usianya.
Ketika usianya menginjak lima belas, kakek memanggilnya duduk di kursi bambu depan rumah. Sore itu angin lembab, bau tanah naik perlahan.
“Kamu mondok,” kata kakek, tanpa pembuka.
Amin mengangguk. Ia sudah menduga. Di Sidareja, mondok adalah jawaban atas banyak hal yang tidak bisa dijelaskan.
Pesantren itu ada di Purwokerto, di kawasan yang oleh orang-orang tua sering disebut penuh keramat. Bangunannya tidak megah, tapi sunyinya terasa berat. Pohon-pohon besar berdiri seperti saksi yang malas bicara. Santri-santri berjalan tertib, seolah tahu bahwa tempat itu tidak suka keributan.
Amin diterima tanpa banyak tanya. Nama orang tuanya kosong di formulir, tapi tidak ada yang mempermasalahkan. Di pesantren, banyak hal memang sengaja tidak diulik.
Hari-hari Amin berjalan biasa. Mengaji, bersih-bersih, menghafal, mengantuk, bangun Subuh dengan mata setengah tertutup. Ia tidak istimewa, tapi juga tidak bermasalah. Ia santri yang rapi dalam diam.
Sampai Sabtu sore itu datang.
Amin sedang duduk di serambi ketika seorang perempuan paruh baya menghampirinya. Pakaiannya sederhana. Kerudungnya rapi. Wajahnya tidak asing, tapi juga tidak bisa langsung dikenali.
“Kamu Amin?” tanyanya, suaranya lembut, seperti suara yang pernah didengar lama sekali.
Amin mengangguk, bingung.
Perempuan itu tersenyum. “Aku ibumu.”
Kalimat itu tidak membuat Amin menangis. Tidak juga membuatnya lari. Ia hanya duduk lebih tegak, mencoba mencerna.
Perempuan itu membuka ponselnya. Menunjukkan foto-foto lama. Seorang bayi di gendongan. Seorang anak kecil di depan rumah kayu. Dan satu foto yang membuat dada Amin seperti diremas pelan.
Foto itu dirinya. Wajahnya. Umurnya sekitar empat tahun.
“Aku tidak bisa lama,” kata perempuan itu. “Tapi Allah izinkan aku menjengukmu.”
Ia mengeluarkan bungkusan makanan. Jajan pasar. Persis seperti yang sering dibuat nenek. Ia juga menyelipkan uang di saku Amin, lalu mengusap kepalanya sambil berdoa lirih.
Setelah itu, ia pergi. Pelan. Tidak menoleh.
Amin duduk lama. Tangannya gemetar. Di kepalanya tidak ada teriakan. Tidak ada tanya keras. Hanya satu perasaan aneh. Hangat, tapi rapuh.
Perempuan itu datang lagi bulan berikutnya. Sabtu sore, akhir bulan. Polanya rapi, seperti jadwal haul.
Tidak pernah lama. Selalu membawa makanan. Selalu menyebut namanya dengan cara yang sangat personal. Dan selalu pamit dengan kalimat yang sama.
“Belajarlah yang sungguh-sungguh, Min. Ibu tidak selalu bisa datang.”
Setahun berlalu.
Amin tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun. Bukan karena takut, tapi karena ia merasa ini bukan cerita yang perlu disebar. Seperti doa, terlalu ramai hanya akan merusak.
Teman-temannya hanya tahu Amin sering dapat kiriman makanan dan uang. Mereka mengira ibunya memang masih hidup. Amin tidak pernah membantah.
Sampai suatu hari, jelang Ramadhan, Amin pulang ke Sidareja.
Rumah itu masih sama. Kursi bambu. Dinding kayu. Bau kayu tua yang tak berubah.
Saat makan malam, Amin bercerita. Tentang pesantren. Tentang pelajaran. Lalu, entah kenapa, tentang ibunya.
Ia menceritakan semuanya. Sabtu sore. Foto. Doa. Makanan.
Sendok nenek terhenti. Kakek menunduk lama.
“Amin,” kata kakek akhirnya, suaranya serak. “Orang tuamu sudah meninggal. Lama sekali.”
Amin tertawa kecil. “Kek, aku tahu keduanya wafat. Tapi ibu itu datang. Wajahnya sama persis.”
Nenek bangkit, masuk kamar, lalu kembali membawa album foto tua. Sampulnya lusuh. Dibuka pelan.
Di sana ada foto seorang perempuan. Wajahnya. Tatapannya. Senyumnya.
Persis.
Amin merasa ruang mengecil.
“Keduanya meninggal kecelakaan motor,” kata kakek pelan. “Kamu masih kecil. Kami rawat kamu. Kami kira, kamu tidak perlu tahu detailnya.”
Amin menatap foto itu lama. Ia teringat sentuhan di kepalanya. Bau bajunya. Doanya.
“Kalau begitu,” suara Amin nyaris tidak keluar, “siapa yang datang menemuiku?”
Kakek tidak menjawab. Nenek menangis pelan.
Malam itu Amin tidak tidur.
Ia shalat lama. Duduk lama. Tidak menangis. Tidak marah.
Ia sadar, harapan memang setipis khayalan. Tapi Allah kadang membiarkan khayalan itu hidup, bukan untuk menipu, melainkan untuk menenangkan.
Bulan berikutnya, Sabtu sore datang lagi.
Amin menunggu di serambi.
Perempuan itu datang seperti biasa. Membawa bungkusan. Tersenyum.
“Ibu,” kata Amin lirih.
Perempuan itu mengangguk.
“Kakek dan nenek bilang ibu sudah wafat,” kata Amin.
Perempuan itu menatapnya lama. Tidak menyangkal. Tidak mengiyakan.
“Doa anak yang ditinggal tidak pernah sia-sia,” katanya. “Kadang Allah mengizinkan rindu menemukan bentuk.”
Ia berdiri. Mengusap kepala Amin terakhir kali.
“Kalau nanti aku tidak datang lagi, jangan cari,” katanya. “Cari Allah saja.”
Sejak itu, perempuan itu tidak pernah datang lagi.
Amin tetap mondok. Tetap Subuh. Tetap belajar.
Ia tidak lagi menunggu Sabtu sore.
Tapi setiap akhir bulan, saat doa-doa dipanjatkan, Amin selalu merasa satu hal.
Ada rindu yang tidak lagi menuntut wujud.
Dan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih lapang.
Comments
Post a Comment
Setiap komentar mengandung konsekuensi di hadapan UTE.