Santri Yang Tidak Pernah Absen Subuh
Subuh pekan pertama Agus di Pesantren Salafiyyah Dukuhwaluh, datang tanpa permisi.
Bukan karena ia tidak tahu waktu, melainkan karena gelap yang terlalu dini menusuk kesadarannya. Kentongan dipukul pelan dari ujung asrama, disusul suara langkah sandal beradu dengan tanah basah. Udara Purwokerto menggigit lembut, seperti tangan tua yang membangunkan cucunya dengan sabar tapi tak bisa ditawar.
Agus membuka mata. Usianya baru lima belas tahun, dan malam-malamnya masih sering diisi mimpi rumah, suara ibunya menanak nasi, dan ayahnya yang selalu bangun paling awal. Kini semua itu tinggal lipatan ingatan di sudut kepala.
Ia duduk, menggigil ringan, lalu mengambil sarung. Di kamar berukuran sempit itu, santri-santri lain bergerak tanpa suara. Tidak ada keluhan. Tidak ada tanya. Seolah Subuh adalah janji yang tidak perlu diingatkan.
Masjid pesantren berdiri sederhana. Dindingnya kusam, lantainya dingin, tapi lampu-lampu kecil menyala setia. Agus mengambil wudhu dengan gerakan kaku. Air kran terasa lebih dingin dari rindu.
Di serambi masjid, sebuah papan absensi tergantung. Kayu tua, tulisan tangan, dan barisan nama yang rapi. Agus memperhatikan sambil menunggu iqamah.
Di sanalah ia melihatnya.
Nama itu selalu ada.
Dika!.
Hari ini, kemarin, entah berapa lama. Tanda hadirnya selalu terisi. Tulisannya rapi, konsisten, seperti ditulis oleh tangan yang sangat sabar.
Agus mengernyit. Ia bertanya pada santri di sampingnya, suaranya ditahan.
“Mas, Dika itu siapa?”
Santri itu menoleh, lalu wajahnya berubah. Bukan takut. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang diingatkan pada sesuatu yang lama ia simpan.
“Kamu santri baru ya,” katanya pelan.
Agus mengangguk.
“Dika sudah lama wafat.”
Kalimat itu jatuh ringan, tapi terasa berat di dada Agus.
“Wafat?”
“Iya. Sudah ratusan tahun. Katanya syahid. Zaman Perang Diponegoro. Area pesantren ini dulu jalur logistik laskar.”
Agus menelan ludah.
“Terus… absensinya?”
Santri itu tersenyum tipis. “Dia tidak pernah absen Subuh.”
Sejak hari itu, Agus selalu memperhatikan papan absensi. Ia datang lebih awal, pulang paling akhir. Nama Dika tidak pernah hilang. Tidak pernah kosong. Bahkan ketika hujan deras, bahkan ketika santri lain terlambat.
Malam-malam Agus mulai diisi kegelisahan. Bukan takut. Lebih seperti rasa ingin tahu yang pelan-pelan berubah jadi cermin.
Suatu Subuh, ia melihat sosok itu.
Duduk di shaf paling depan. Usianya sebaya. Wajahnya tenang, pakaiannya sederhana. Tidak bercahaya. Tidak mengerikan. Justru terlalu biasa.
Agus gemetar.
Sosok itu menoleh.
“Namaku Dika,” katanya.
Suaranya lembut. Seperti orang yang tidak pernah tergesa.
“Aku janji pada Allah, dan janji itu belum selesai.”
Sejak itu, Agus tak pernah lagi berani bercanda soal Subuh.
Ia belajar bahwa kehidupan bisa berhenti, tapi janji tidak.
Dan di papan absensi masjid Dukuhwaluh, satu nama terus hadir, mengajarkan arti setia yang tidak perlu disaksikan siapa pun.
Comments
Post a Comment
Setiap komentar mengandung konsekuensi di hadapan UTE.